Lotre (The Lottery)


Translation (via Claude Opus 4.8):LOTRE DAN CERITA-CERITA LAINNYA
“Katanya,” kata Tuan Adams kepada Pak Tua Warner, yang berdiri di sampingnya, “di desa utara, mereka berbicara soal menghentikan lotre.”
Pak Tua Warner mendengus. “Orang-orang bodoh yang gila,” katanya. “Mendengarkan orang muda, tidak ada yang cukup baik menurut mereka. Tahu-tahu, mereka ingin kembali tinggal di gua, tidak ada yang bekerja lagi, hidup seperti itu untuk sementara waktu. Dulu ada pepatah tentang ‘Lotre di bulan Juni, jagung segera panen.’ Tahu-tahu, kita semua akan makan rebusan chickweed dan biji pohon ek. Akan selalu ada lotre,” tambahnya kesal. “Cukup buruk untuk melihat Joe Summers muda di atas sana bercanda dengan semua orang.”
Shirley Jackson dalam cerpen-cerpennya ini, tidak hanya memasukkan unsur horor dan misteri ke dalamnya, tapi juga beragam kecemasan diri, kemuakan terhadap kota besar yang justru dianggap mencengangkan di mata orang-orang, kecurigaan-kecurigaan, kebohongan-kebohongan, rasisme, dan banyak lagi lainnya.
THE LOTTERY AND OTHER STORIES
“They say,” said Mr. Adams to Old Man Warner, who stood beside him, “that in the north village they’re talking about giving up the lottery.”
Old Man Warner snorted. “Pack of crazy fools,” he said. “Listening to the young folks, nothing’s good enough for them. Next thing you know, they’ll want to go back to living in caves, nobody work any more, live that way for a while. Used to be a saying about ‘Lottery in June, corn be heavy soon.’ Next thing you know, we’d all be eating stewed chickweed and acorns. There’s always been a lottery,” he added petulantly. “Bad enough to see young Joe Summers up there joking with everybody.”
In these short stories, Shirley Jackson weaves in not only elements of horror and mystery, but also a range of personal anxieties, a revulsion toward the big city that others find astonishing, suspicions, lies, racism, and much more.